Minggu, 23 Januari 2011

Mengenangmu, Ibu.


Ibu, empat tahun telah berlalu semenjak hari itu. Hari dimana kau meninggalkan kami, meninggalkan kesedihan mendalam yang aku tahu tidak akan pernah berakhir sampai saat kita bertemu lagi.

Kadang, saat kerinduanku tidak terbendung lagi, ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya. Berlari kemanapun, ke belahan dunia manapun, di tempat engkau berada.

Ibu, semenjak engkau pergi, rasanya seperti ada lubang besar dihatiku. Terasa seperti ada hal yang hilang, kosong, entah apa. Aku tidak tahu dengan apa lubang itu bisa menutup kembali.

Aku sering berangan-angan bagaimana jika seandainya engkau masih ada. Dulu, saat pertama kali aku berangkat ke Bukitinggi dengan tranex, aku menangis sejadi-jadinya. Aku membayangkan bagaimana jika seandainya kau yang membantuku mengurus tempat tinggalku disana?Apakah kau akan sering memasakkan makanan untukku? Apakah kau akan sering mengunjungiku?

Tahukah kau Ibu? Aku semakin mirip denganmu. Kadang saat aku bercermin, aku terkejut sendiri. Tulang pipiku semakin menonjol, persis sepertimu. Kadang aku tersadar, caraku berbicara, tertawa, bahkan batuk pun mirip denganmu. Seandainya ketika kecil orang-orang berkata bahwa aku mirip denganmu, aku pasti sangat bangga. Tetapi bukan wajah kita saja yang mirip, sekarang saat aku sudah mulai beranjak dewasa aku menyadari banyak sifat kita yang sama.

Ibu, akhir-akhir ini aku sangat sering memikirkanmu. Lihatlah Ibu, sebentar lagi anak sulungmu akan menikah. Aku turut berbahagia untuknya, aku berharap dia akan menjadi suami yang baik.

Uni ku, anak keduamu, baru saja melahirkan anak keduanya Desember lalu. Al Chairi Zaidi namanya. Abangnya, Chairi Ziyad, berumur dua tahun tepat di tanggal yang sama dengan hari kepergianmu. Dia telah tumbuh besar dan sehat. Aku sangat menyayangi mereka, Ibu.

Adikku, sebentar lagi dia akan memasuki dunia kuliah. Betapa waktu cepat berlalu. Dulu dia masih kecil dan manja, sekarang dia sudah besar, sedang mengeksplorasi dunianya sendiri. Ibu, aku ingin membimbingnya. Tapi terkadang aku merasa aku hanya sibuk dengan urusanku sendiri. Aku bahkan tidak tahu apa cita-citanya. Ibu, maafkan aku..

Ibu, aku sudah dewasa sekarang. Banyak hal yang ingin kulakukan, banyak cita-cita dan impian yang ingin kucapai. Doakan aku selalu..

Aku masih sendiri, tidak seperti teman-temanku yang lain. Ah Ibu, ada dan tiada seseorang disampingku benar-benar tidak apa-apa. Walaupun terkadang aku menginginkannya juga, terutama saat aku merindukanmu. Ibu, aku akan mengingat nasehatmu tentang seseorang yang akan menemani hidupku nantinya. Kau hanya menyuruhku menemukan seseorang yang baik, hanya itu.

Ibu, aku ingin menjadi wanita yang tangguh sepertimu. Aku ingin lebih kuat dari sekarang. Bukankah kau orang yang kuat hingga akhir nafasmu? Aku pun ingin seperti itu, karena didarahku mengalir darahmu.

Padang, 23 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar