Sabtu, 12 November 2011

Akihide Come Again

It is midnight when i suddenly open Akihide`s web. Yes, such a long....time nee....?

Actually, i can`t read anything. But, i always love his site. I miss his guitar playing on the background, i longing to see his moonside theatre, and his photograph in profile page is always melting me out.

Talking about Akihide, i dont update anything about him for about one year. Honestly. Maybe up to one year -_- I blame my notebook for that....

Yes, i knew he is turn to be more "popular" now. Its different with three years ago (maybe). What the hell he is doing now? Yaoi?Daigo?Yasu?. I can`t get anything about that Akihide san...

Just forget it. What the use of fussing about his "entertainment life"? Its just another drama.

Hey, i want to read his blog entry. But, what can i do? Gugel Translet? Nope, its just ruining the phrases. I rather searching for the fans translation. Formerly, i used to open this : raatkerani. But now, it seems she was really busy studying. So, its not too update.

I just remember about Akihide`s blog entry on 2009. Its heart warming story. Now, i search it again on Fatma`s livejournal. Lucky me found that entry on this midnight.

This is it: Akihide Blog 27 Juli 2009

She`s wrote it on English and Bahasa. I repost the Bahasa.

27 Juli 2009

Pelajaran dari Teh Hijau

Sehari setelah konser di Budoukan.
Langit biru cerah dengan awan putih yang kontras membangkitkan perasaan yang menyenang di awal siang itu.
Aku pergi menghadap makam ayah dan menceritakan tentang konser itu.

Setelah itu aku berkunjung ke rumah orang tuaku.
Akhir-akhir ini aku benar-benar menggemari matcha, bahkan di rumah pun rasanya ingin meminumnya, tetapi alat-alatnya tidak ada. Saat memikirkannya aku teringat bahwa pada saat mudanya, ayah mengikuti kelompok chadou di kantornya. Dan aku ingat, saat kecil pernah melihat perangkat minum teh itu.

Setelah bertanya pada ibu, ia mengeluarkannya untukku dari dalam penyimpanannya.
Chasen itu terlihat penuh cerita. (Alat untuk mengaduk teh)

Tapi wadah untuk membuat teh juga tidak ada, yah, sebelum kami akhirnya membeli wadah untuk mimum teh, cawan yang digunakan di rumah memiliki cerita tersendiri.
Dulu ibu membuat membuat keramik di waktu senggangnya, dan ada karya-karyanya yang tidak sempurna. Aku pun perlahan-lahan mencari karya ibu itu di beranda.

Meskipun ada gambaran yang nyata tentang perangkat yang aku cari, tetapi yang kutemukan adalah cawan the lain berwarna hijau tua yang sendu.

Aku membawa keduanya pulang sebagai suvenir dan segera menyiapkan teh, sambil berpikir.

Dengan chasen peninggalan ayah dalam cawan buatan ibu, seorang anak laki-laki menyiapkan tehnya.
Hal ini sama seperti kehidupan.
Kehidupan pemberian orang tua ditumpahkan ke dalam wadah ini.
Rasanya agak getir, tetapi rasa yang ditinggalkannya sangat dalam dan menyegarkan.
Bagaimana pun juga, hal ini sebanding dengan kehidupan manusia.

Tetapi…
Sebagaimana bubuk teh yang hilang larut dalam air.
Pemikiran ini seperti berusaha mencapai sasarannya tanpa menjadi berlebihan.
Pencarian terhadap pengetahuan tiada akan habis, seperti halnya mempelajari kehidupan.
Dengan berbicara tentang matcha aku dapat menyampaikan pemikiranku.

Untuk saat ini,
Matcha
Aku sangat menyukainya.

What do you think about his thought? For me its a lil bit complicated. So that, interesting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar