Kamis, 06 Februari 2014

Kebaikan VS Kebodohan

Malam itu aku pulang sendirian. Perjalanan panjang dari Jambi menuju Padang yang awalnya menyenangkan, karena kursi di sebelahku tidak terisi. Aku bisa dengan leluasa bergerak dan bisa meletakkan barang-barang di kursi tersebut. Walaupun AC bus terasa sangat dingin, aku masih bisa melewati separuh perjalanan dengann tidur.

Di Sijunjung, bus tersebut berhenti untuk istirahat. Para penumpang menuju restoran untuk makan, buar air kecil, atau sepertiku, sekedar duduk-duduk mencari kehangatan. setelah supir memberitahu untuk melanjutkan perjalanan, semua orang kembali menaiki bus. Saat sampai di kursi, aku terkejut karena seorang ibu sudah duduk disana. Ia langsung saja berkata "Maaf yah dek, ibuk duduk disini ya. Adek duduk di tempat ibuk ya". Karena aku pikir ibu itu hanya duduk sementara disana, akhirnya aku menyetujui saja permintaannya.

Beberapa jam perjalanannya, ibu itu masih tidak beranjak dari kursiku. Ia tetap disana, setengah berbaring di kedua kursi. Aku mulai merasa kesal. Bukan kesal pada ibu itu. Tapi kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa asertif. Saat ibu itu "menjajah" hakku, aku sendiri menderita karena duduk di sebelah seorang laki-laki. Belum lagi beberapa kali aku harus dibahasi tetesan air AC yang rusak. Berbagai pemikiran berkecamuk di kepalaku. Sampai-sampai aku berpikir bahwa orang sepertiku mudah sekali dibodohi.

Saat bertarung dengan pemikiran dan perasaan sendiri, sesekali aku melihat ke arah ibu itu. Ia yang awalnya bisa tidur dengan tenang mulai muntah-muntah. Ia sangat tidak nyaman. Tidak sekali dua kali ia muntah, tapi berkali-kali. Aku pikir dia masuk angin parah. Rasanya aku kasihan juga. Ragu-ragu aku menawarkan obat anti mabuk padanya. Namun ibu itu berkata bahwa ia sudah meminum obat itu sebelumnya. Ia balik menanyakan apakah aku punya balsem. Kebetulan saat itu aku memiliki balsem merah yang selalu kubawa saat perjalanan jauh. Bukannya memakai sendiri, ibu itu malah memintaku mengoleskannya. Ia langsung mengangkat bajunya dan menyodorkan punggungnya padaku. Kebingungan, aku langsung saja memenuhi permintaannya.

Beberapa saat setelah itu, iapun bisa tidur dengan nyenyak. Ia tidak lagi muntah-muntah bahkan saat bus sudah sampai di Padang.

Sebelum turun ia tidak lupa berterima kasih kepadaku. Lagi-lagi aku merasa bersalah pada diriku sendiri.

Kejadian ini kuceritakan pada kakak iparku yang sehari setelahnya datang ke rumah. Walaupun aku menceritakannya dengan penuh kekesalan, kakak iparku menanggapi dengan tenang. Ia malah berkata "Mungkin ia melihat bahwa kamu adalah orang yang baik".

Aku merenungkan kata-kata itu berhari-hari. Apakah mungkin seseorang meminta tolong pada seseorang yang dianggapnya tidak baik?

Dan beberapa hari setelahnya aku terlibat perbincangan melalui BBM dengan seorang teman yang lebih muda dariku. Banyak hal yang kami bicarakan, hingga salah satu kalimat yang dikirimkan padaku adalah "Kakak terlalu baik sih..dan itu gak salah". Saat itu aku membalas "Karena kadang kakak gak bisa membedakan kebaikan dan kebodohan".

Semua memang tergantung sudut pandang masing-masing. Terkadang kita merasa dimanfaatkan oleh orang lain, namun bisa jadi mereka memandang bahwa kita ikhlas melakukan kebaikan.

Namun kebaikan tetap kebaikan, bukan? Siapapun pelakunya, apapun bentuknya. 

Mulai sekarang bisakah kita melakukan kebaikan tanpa memikirkan hal lainnya? Tanpa pamrih, tanpa merasa dimanfaatkan, tanpa penyesalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar