Sabtu, 11 Juli 2009

Me as Grandma

Di jati, seorang nenek bersama cucunya yang cantik naik angkot yang juga gw naiki. Sepertinya mereka baru dari Bukittinggi (dilihat dari alamat toko yang mereka bawa). Awalnya gw sedikit respek dengan nenek ini, melihat caranya berpakaian dan caranya memperhatikan cucunya.

Semudah gw menyukainya, semudah itu pula persepsi gw berubah tentangnya.

Bermula ketika seorang ibu yang turun di Alai. Ibu itu membawa kotak berisi lemari lipat yang lumayan besar, sehingga penumpang yang lain harus membantunya menurunkannya. Ketika ibu itu telah membayar ongkos, si nenek tadi tiba-tiba berteriak “ Makasih ya nak….makasih ya nak….!”. Ternyata ia bermaksud menyindir ibu yang lupa mengucapkan terima kasih. Lalu ia berujar “ Yang seperti itu memang harus diajarin! ”. Pada waktu itu gw berpositif thinking kalo nenek itu bermaksud memberikan pesan moral pada cucunya.

Tapi rasanya nenek ini mulai menjengkelkan ketika ia mulai mengurusi masalah penumpang yang ingin naik angkot. “ Udah malam kok belum pulang…, gak bakalan naik tu pak sopir” kira-kira itulah kata-kata yang dilontarkannya. Untuk saat ini gw masih berpikir bahwa “ ah, namanya juga nenek-nenek…..”

Sesaat setelah itu, ada lagi penumpang yang naik dan duduk disebelahnya. Lalu cucunya membisikkan sesuatu ke telinga sang nenek. Tiba-tiba nenek ini berkata “ Gak papa sempit kok,.sempit itu kan berarti kita bersedekah sama orang lain…” Kata-kata yang sangat bijaksana bukan pemirsa-pemirsa??? Patut untuk dicontoh tentunya. Tapi pentingkah dibicarakan saat itu juga? Tidakkah nenek ini merasa akan ada orang yang akan tersinggung??? Saat itu gw mulai berubah pikiran tentangnya.

Dan you know, saat gw turun seperti biasa gw akan bilang “Kiri” kepada pak sopir. Di Padang ato di Bukitinggi gw pikir bahasa seperti itu biasa-biasa, normal dan sopan-sopan saja. Tapi tiba-tiba si nenek itu berkata dengan logat yang dimanis-maniskan “ Kiri Pak Sopir…..Itu sudah ada alamatnya (tata kramanya)”. JAAMPUN……PLISS DEH NENEK-NENEK……Yang pasti saat itu gw turun sambil berkata dengan sedikit keras “ ASTAGHFIRULLAHHALAZIM…” Dan ketika memberikan ongkos gw bilang “ Makasih yah Pak!”

Kejadian itu membuat gw berpikir satu hal.

“Seperti apakah gw ketika nantinya menjadi seorang nenek?”.

Jika gw mengingat bagaimana nenek gw mendidik cucunya, mungkin tidak jauh berbeda dengan nenek tadi. Bedanya , nenek gw gak pernah memberikan pesan moral kepada kami dengan cara begitu. Ia lebih suka mengajarkan kepada kami secara personal. Yang pasti ia tidak suka menyindir.

Gw jadi teringat teori perkembangan Eriksson. Walaupun nenek itu telah melewati periode GENERATIVITAS VS STAGNASI mungkin ia masih mempunyai sedikit kecemasan bahwa ia tidak bisa memberikan ‘sesuatu’ kepada keturunannya. Yang pasti, kepribadiannyalah yang membuat dia berperilaku seperti itu. Tergantung dari pengalaman-pengalamannya terdahulu, pola asuhnya, dll. Hahaha, kok udah sampai disini topiknya???

Apakah nantinya ketika gw menjadi nenek-nenek juga akan seperti itu??? Benar-benar tipe nenek-nenek yang tidak gw sukai….hahahahaha. Mengurusi berbagai macam hal yang tidak seharusnya di urusi, berbicara seakan-akan yang paling dan selalu benar….

-antciel89-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar